Kamis, 13 Maret 2014
Asal Usul Kota Magetan
ASAL USUL KOTA MAGETAN
Pada buku sejarah Kabupaten Magetan telah disebutkan, bahwa kita tidak mungkin mengungkapkan sejarah Magetan tanpa mengemukakan masalah kerajaan terdekat yang berkuasa serta masalah-masalah VOC atau kompeni Belanda.
Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 M merupakan tonggak sejarah mulai surutnya kejayaan Kerajaan Mataram. Beliau sangat gigih melawan VOC, sedangkan penggantinya ialah Sultan Amangkurat I yang menduduki tahta kerajaan Mataram pada tahun 1646-1677 sikapnya lemah terhadap VOC atau Kompeni Belanda. Pada tahun 1646, Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga pengaruh VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram, bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk ke Mataram. Kerajaan Mataram makin menjadi lemah pelayaran perdagangan makin dibatasi, antara lain perdagangan makin dibatasi, antara lain tidak boleh berdagang ke Pulau Banda, Ambon, dan Ternate. Peristiwa di atas menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, terlebih lagi pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II.
Kejadian-kejadian di pusat Pemerintahan Mataram selalu diikuti dengan seksama oleh Daerah Mancanegara, sehingga pangeran Giri yang sangat berpegaruh di daerah pesisir utara Pulau Jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Pada masa itu seorang pangeran dari Madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa terhadap pamannya yang bernama Pangeran Cakraningrat II karena beliau terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang saja di pusat Pemerintahan Mataram. Trunojoyo melancarkan pemberontakan kepada Mataram pada tahun 1647(MC. Ricklefs : 1990, 24). Pemberontakan itu didukung oleh orang-orang dari Makasar seperti Kraeng Galengsung dan Montemeramo. Dalam suasana seperti itu kerabat Keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumoo dan Patih Mataram yang bernama Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dengan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan ini Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari, di tempat kediaman kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakan jabatan dan kemudian pergi bertapa ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra Patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susushunan Giri IV Mataram). Di dalam pengasingan ini Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya yaitu Basah Suryaningrat, dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur Gunung Lawu sedang diadakan babad hutan yang diadakan oleh seseorang yang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.
Untuk mendapatkan sebidang tanah sebagai tempat bermukim di sebelah timur Gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu di Dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tepatnya di sekitar alun-alun Kota Magetan dengan perantara Ki Ageng Getas. Hasil dari pertemuan ini, Basah Suryaningrat mendapat sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong tepatnya di Kelurahan Tambran Kecamatan Kota Magetan sekarang. Peristiwa ini terjadi setelah melalui perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui, bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itulah akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya kepada Mataram.
Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan Ki Ageng Mageti itu sekaligus beliau mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru dengan gelar YOSONEGORO yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675, dengan condro sengkolo “MANUNGGALING ROSO SUKO HAMBANGUN”. Basah Suryaningrat dan Yosonegoro (Basah Gondokusumo) merasa sangat besar hatinya, karena disamping telah mendapat persembahan tanah yang berwujud wilayah yang cukup luas dan strategis, juga mendapatkan seorang sahabat yang dapat diandalkan kesetiannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru itu diberi nama : “MAGETAN”
Daftar Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Magetan adalah :
1. Raden Tumenggung Yosonegoro(1675 – 1703)
2. Raden Ronggo Galih Tirtokusumo (1703 – 1709)
3. Raden Mangunrono(1709 – 1730)
4. Raden Tumenggung Citrodiwirjo (1730 – 1743)
5. Raden Arja Sumaningrat(1743 – 1755)
6. Kanjeng Kyai Adipati Poerwadiningrat (1755 – 1790)
7. Raden Tumenggung Sosrodipuro(1790 – 1825)
8. Raden Tumenggung Sosrowinoto (1825 – 1837)
9. Raden Mas Arja Kartonagoro(1837 – 1852)
10. Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat III (1852 – 1887)
11. Raden M.T. Adiwinoto(1887 – 1912), R.M.T. Kertonegoro (1889)
12. Raden M.T. Surohadinegoro (1912 – 1938), R.A. Arjohadiwinoto (1919)
13. Raden Mas Tumenggung Soerjo(1938 – 1943)
14. Raden Mas Arja Tjokrodiprojo (1943 – 1945)
15. Dokter Sajidiman(1945 – 1946)
16. Sudibjo (1946 – 1949)
17. Raden Kodrat Samadikoen(1949 – 1950)
18. Mas Soehardjo (1950)
19. Mas Siraturahmi(1950 – 1952)
20. M. Machmud Notonindito (1952 – 1960)
21. Soebandi Sastrosoetomo (1960 – 1965)
22. Raden Mochamad Dirjowinoto(1965 – 1968)
23. Boediman (1968 – 1973)
24. Djajadi(1973 – 1978)
25. Drs. Bambang Koesbandono (1978 – 1983)
26. Drg. H.M. Sihabudin (1983 – 1988)
27. Drs. Soedharmono (1988 – 1998)
28. Soenarto (1999-2004)
29. Saleh Mulyono (2004-2009)
30. H.Soemantri (2009-2013)
sumber : http://tutiksulastri720.wordpress.com/2013/06/11/sejarah-berdirinya-kabupaten-magetan/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar