Kamis, 13 Maret 2014

Tentang SMPN 1 Magetan



SMP ini berdiri sejak 5 September 1946 , kini SMPN1 Magetan menjadi sekolah favorit dan sempat menjadi sekolah RSBI(Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di kota magetan
           
      Sebelum pelajaran dimulai pun SMPN 1 Magetan mewajibkan seluruh siswa dan guru-guru untuk membaca kitab suci secara serentak 15 menit. kegiatan ini bertujuan untuk menciptaka pribadi yan beriman dan taqwa kepada Allah SWT.Pada setiap 1x pelajaran ada 40 Menit.

 Kepala Sekolah SMPN 1 Magetan sekarang adalah Drs. Setyo Budi M,MPd.
Gambar di bawah ini adalah Logo dari SMPN 1 Magetan




Dan di bawah ini adalah gambar depan SMPN 1 Magetan


SMPN 1 Magetan juga mempunyai Janji Siswa yang harus jadi pedomann bagi siswa/siswi SMPN 1 Magetan. Berikut Janji siswa SMPN 1 Magetan :
                                          "JANJI SISWA
Aku siswa SMPN 1 MAGETAN yang Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berjanji :
1. Mentaati tata tetib sekolah
2.Belajar giat menuntut ilmu
3.Menjaga nama baik sekolah
4.Menggalang persatuaan dan kesatuan."


Nah, Dibawah ini adalah visi dan misi dari SMPN 1 Magetan ;;)


 Nah ini dia visi dan misi SPN 1 Magetan :)
” UNGGUL DALAM PRESTASI DIJIWAI RASA IMTAQ DAN BERWAWASAN INTERNASIONAL"

VISI SMP NEGERI 1 MAGETAN
Indikator Visi :
1.   Terwujudnya lulusan yang cerdas, kompetitif, cinta tanah air, beriman dan bertaqwa;
2.   Terwujudnya lulusan dengan kompetensi atau kemampuan bertaraf internasional;
3.   Terwujudnya KTSP di sekolah bertaraf internasional;
4.   Terwujudnya pembelajaran yang efektif, efisien dan bertaraf internasional;
5.   Terwujudnya standar sarana dan prasarana pendidikan yang relevan dan mutakhir serta bertaraf internasional;
6.   Terwujudnya standar tenaga pendidik dan kependidikan bertaraf internasional;
7.   Terwujudnya standar pengelolaan pendidikan bertaraf internasional;
8.   Terwujudnya standar penilaian pendidikan bertaraf internasional;
9.   Terwujudnya penggalangan biaya pendidikan yang memadai;
10.Terwujudnya budaya mutu sekolah;
11.Terwujudnya lingkungan sekolah yang nyaman, aman, rindang, asri dan bersih.

MISI SMP NEGERI 1 MAGETAN
Indikator Misi :
1.      Mewujudkan lulusan yang cerdas, kompetitif, cinta tanah air dan berakhlaqul karimah;
2.      Mewujudkan lulusan yang mampu bersaing dengan negara lain;
3.1.   Mewujudkan dokumen-1 KTSP bertaraf internasional;
3.2.   Mewujudkan silabus semua mata pelajaran bertaraf internasional kelas 7,8 dan 9;
3.3.   Mewujudkan RPP            semua mata pelajaran bertaraf internasional kelas 7,8 dan 9;
4.1.   Mewujudkan perangkat kurikulum yang bertaraf internasional;
4.2.   Mewujudkan diversifikasi kurikulum SMP bertaraf internasional agar relevan dengan kebutuhan dan tuntutan dunia global;
4.3.   Mewujudkan sekolah yang inovatif, kreatif, dinamis dan berwawasan internasional;
5.      Mewujudkan fasilitas sekolah yang relevan, mutakhir dan berwawasan kedepan serta bertaraf internasional;
6.     Mewujudkan tenaga pendidik dan kependidikan yang mampu dan tangguh serta memiliki kompetensi di bidangnya yang bertaraf internasional;
7.      Mewujudkan manajemen berbasis sekolah yang tangguh dan bertaraf internasional;
8.1.   Mewujudkan kemampuan olah raga, kesenian, kepramukaan, KIR yang tangguh dan kompetitif serta mampu bersaing ditingkat internasional;
8.2.   Mewujudkan nilai-nilai agama bagi kenikmatan hidup bagi peserta didik dan mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya global sesuai jati diri bangsa          ;
8.3.   Mewujudkan nilai-nilai solidaritas bagi kehidupan sekolah, masyarakat, berbangsa dan dalam kancah dunia internasional;
9.      Mewujudkan pembiayaan pendidikan yang memadai, wajar dan adil sesuai dengan tuntutan pendidikan yang bertaraf internasional;
10.    Mewujudkan organisasi sekolah yang terus belajar (learning organization) sesuai perkembangan global;
11.1 Mewujudkan sekolah wiyata mandala yang nyaman dan kondusif untuk siswa belajar dalam pencapaian prestasi bertaraf internasional;
11.2 Mewujudkan sekolah sehat.

Asal Usul Kota Magetan



                                                ASAL USUL KOTA MAGETAN
Pada buku sejarah Kabupaten Magetan telah disebutkan, bahwa kita tidak mungkin mengungkapkan sejarah Magetan tanpa mengemukakan masalah kerajaan terdekat yang berkuasa serta masalah-masalah VOC atau kompeni Belanda.
Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 M merupakan tonggak sejarah mulai surutnya kejayaan Kerajaan Mataram. Beliau sangat gigih melawan VOC, sedangkan penggantinya ialah Sultan Amangkurat I yang menduduki tahta kerajaan Mataram pada tahun 1646-1677 sikapnya lemah terhadap VOC atau Kompeni Belanda. Pada tahun 1646, Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga pengaruh VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram, bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk ke Mataram. Kerajaan Mataram makin menjadi lemah pelayaran perdagangan makin dibatasi, antara lain perdagangan makin dibatasi, antara lain tidak boleh berdagang ke Pulau Banda, Ambon, dan Ternate. Peristiwa di atas menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, terlebih lagi pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II.
Kejadian-kejadian di pusat Pemerintahan Mataram selalu diikuti dengan seksama oleh Daerah Mancanegara, sehingga pangeran Giri yang sangat berpegaruh di daerah pesisir utara Pulau Jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Pada masa itu seorang pangeran dari Madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa terhadap pamannya yang bernama Pangeran Cakraningrat II karena beliau terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang saja di pusat Pemerintahan Mataram. Trunojoyo melancarkan pemberontakan kepada Mataram pada tahun 1647(MC. Ricklefs : 1990, 24). Pemberontakan itu didukung oleh orang-orang dari Makasar seperti Kraeng Galengsung dan Montemeramo. Dalam suasana seperti itu kerabat Keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumoo dan Patih Mataram yang bernama Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dengan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan ini Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari, di tempat kediaman kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakan jabatan dan kemudian pergi bertapa ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra Patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susushunan Giri IV Mataram). Di dalam pengasingan ini Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya yaitu Basah Suryaningrat, dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur Gunung Lawu sedang diadakan babad hutan yang diadakan oleh seseorang yang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.
Untuk mendapatkan sebidang tanah sebagai tempat bermukim di sebelah timur Gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu di Dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tepatnya di sekitar alun-alun Kota Magetan dengan perantara Ki Ageng Getas. Hasil dari pertemuan ini, Basah Suryaningrat mendapat sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong tepatnya di Kelurahan Tambran Kecamatan Kota Magetan sekarang. Peristiwa ini terjadi setelah melalui perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui, bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itulah akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya kepada Mataram.
Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan Ki Ageng Mageti itu sekaligus beliau mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru dengan gelar YOSONEGORO yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675, dengan condro sengkolo MANUNGGALING ROSO SUKO HAMBANGUN”. Basah Suryaningrat dan Yosonegoro (Basah Gondokusumo) merasa sangat besar hatinya, karena disamping telah mendapat persembahan tanah yang berwujud wilayah yang cukup luas dan strategis, juga mendapatkan seorang sahabat yang dapat diandalkan kesetiannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru itu diberi nama :  “MAGETAN”

Daftar Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Magetan adalah :
1. Raden Tumenggung Yosonegoro(1675 – 1703)
2. Raden Ronggo Galih Tirtokusumo (1703 – 1709)
3. Raden Mangunrono(1709 – 1730)
4. Raden Tumenggung Citrodiwirjo (1730 – 1743)
5. Raden Arja Sumaningrat(1743 – 1755)
6. Kanjeng Kyai Adipati Poerwadiningrat (1755 – 1790)
7. Raden Tumenggung Sosrodipuro(1790 – 1825)
8. Raden Tumenggung Sosrowinoto (1825 – 1837)
9. Raden Mas Arja Kartonagoro(1837 – 1852)
10. Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat III (1852 – 1887)
11. Raden M.T. Adiwinoto(1887 – 1912), R.M.T. Kertonegoro (1889)
12. Raden M.T. Surohadinegoro (1912 – 1938), R.A. Arjohadiwinoto (1919)
13. Raden Mas Tumenggung Soerjo(1938 – 1943)
14. Raden Mas Arja Tjokrodiprojo (1943 – 1945)
15. Dokter Sajidiman(1945 – 1946)
16. Sudibjo (1946 – 1949)
17. Raden Kodrat Samadikoen(1949 – 1950)
18. Mas Soehardjo (1950)
19. Mas Siraturahmi(1950 – 1952)
20. M. Machmud Notonindito (1952 – 1960)
21. Soebandi Sastrosoetomo (1960 – 1965)
22. Raden Mochamad Dirjowinoto(1965 – 1968)
23. Boediman (1968 – 1973)
24. Djajadi(1973 – 1978)
25. Drs. Bambang Koesbandono (1978 – 1983)
26. Drg. H.M. Sihabudin (1983 – 1988)
27. Drs. Soedharmono (1988 – 1998)
28. Soenarto (1999-2004)
29. Saleh Mulyono (2004-2009)
30. H.Soemantri (2009-2013)
              sumber : http://tutiksulastri720.wordpress.com/2013/06/11/sejarah-berdirinya-kabupaten-magetan/

makanan khas kota magetan



Magetan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang letaknya berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, kabupaten ini dilalui oleh jalur utama Surabaya-Yogyakarta dan jalur kereta api lintas selatan pulau Jawa. Selain memiliki objek wisata alam yang sangat terkenal, seperti Telaga Sarangan, Magetan juga mempunyai ragam wisata kuliner yang khas. Tahu Tepo, Lempeng, Bolu, Ayam Gandu dan Jeruk Pamelo adalah beberapa makanan khas kabupaten ini yang patut Anda coba.

Bagi Anda penikmat kuliner berbahan dasar tahu, seperti Tahu Tek, Tahu Telur dan Kupat Tahu, Tepo Tahu khas Magetan ini merupakan makanan yang mirip dengan ketiganya. Tepo adalah sejenis lontong yang berbentuk seperti limas atau piramida. Tepo tahu terdiri dari irisan tepo diatas piring yang sudah dikasih bumbu kacang, kemudian diberi irisan telur, tahu dan tempe serta kecap manis. Sebagai pelengkap, ada tambahan taoge rebus, daun seledri, taburan bawang dan kacang goreng. Tepo tahu paling terkenal di Magetan berada di jalan Pahlawan, persis berhadapan dengan Gedung Pegadaian Magetan.


Lempeng merupakan kerupuk khas Magetan yang berasal dari beras maupun ketan, beras atau ketan tersebut direbus kemudian dicampur bleng, semacam air laut yang berfungsi untuk mengenyalkan. Setelah itu ditiriskan, ditambahi bumbu puli, bawang dan garam, di tumbuk menjadi satu agar bisa menyatu. Saat kondisi panas adonan dibentuk, setelah dingin kemudian dipotong-potong, dikeringkan, dan barulah digoreng. Kerupuk ini mudah didapatkan di warung-warung atau toko-toko di Magetan, sentra kerupuk lempeng yang terkenal berada di jalan Sadewo, Kelurahan Sukowinangun, Kecamatan Magetan.


Mungkin Anda sudah tidak asing dengan yang namanya kue atau roti Bolu, kue ini ternyata memiliki sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Magetan. Bolu merupakan makanan khas Magetan yang dipercaya sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka. Selain sebagai makanan atau kudapan sehari-hari, Bolu juga menjadi sajian yang selalu ada dalam upacara adat di Kabupaten ini. Yang menarik adalah saat diadakannya Lesung Syuro dan Bedug Muharam (Ledhug), upacara menyambut tanggal 1 Muharam dan 1 Syuro, saat prosesi berlangsung ribuan masyarakat yang berkumpul di alun-alun memperebutkan ribuan roti bolu.


Magetan mempunyai satu desa yang terkenal dengan wisata kuliner ayam panggangnya, ayam panggang gandu begitulah orang-orang menyebutnya. Sentra ayam panggang gandu ini berada di Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, sentra ini menyajikan ayam kampung panggang yang bisa dinikmati di warung-warung lesehan yang ada di desa itu. Gurihnya citarasa ayam di desa ini berbeda dengan ayam-ayam panggang lainnya yang ada di Jawa Timur, hal ini juga terlihat dari bumbu dan cara memanggangnya. Sentra ayam gandu ini selalu ramai pengunjung, karena lokasinya dilewati oleh jalan akses Madiun-Solo.


Kecamatan Sukomoro dan Kecamatan Bendo yang terletak disebelah timur Kabupaten Magetan merupakan sentra perkebunan Jeruk Pamelo yang terkenal. Jeruk Pamelo merupakan jeruk yang ukurannya besar, atau yang lebih dikenal dengan jeruk Bali oleh masyarakat umum. Penamaan pamelo sendiri diambil dari nama latinnya, dan hal ini disarankan oleh Departemen Pertanian, karena jeruk besar ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bali. Jika Anda ingin menikmati manisnya jeruk ini langsung dari kebunnya, saat ini adalah waktu yang tepat, karena musim panen Pamelo ada di bulan April hingga Juni setiap tahunnya.


 sumber : http://iklanpos.co.id/?p=5347